Image: sumurbuaya.blogspot.com

Geliat Musik Independen Menuju Industri

Image: sumurbuaya.blogspot.com

Tulisan lama yang belum pernah dipublikasikan dimanapun dan hanya tercecer di notes Facebook saya. Kalau tidak salah, ini ditulis sekitar bulan ramadhan tahun 2009. Entahlah bulan apa dan tanggal berapa tepatnya. Tapi tampaknya tulisan ini masih relevan dengan kondisi yang ada sekarang. Maka, saya posting lagi saja..
“Cukup dengan rambut mohawk, celana ketat, aksesoris spike, tattoo di sekujur tubuh, sepatu hansip dan mulut berbau intisari maka kamu sudah bisa disebut sebagai anak punk;”

Ide untuk membuat tulisan ini berawal saat saya sedang berbincang-bincang dengan Owang, vokalis band metal Beside. Saat itu saya mewawancarainya untuk salah satu rubrik di majalah tempat saya bekerja. Entah kenapa perbincangan kami semakin meluas dan berujung dengan perbincangan seputar keadaan scene independen saat ini.

“Saat ini perkembangannya sudah cukup pesat. Gue yakin perkembangan scene kedepannya akan semakin bagus,” ucap Owang. Pandangan-pandangan Owang terhadap kondisi scene saat ini memang dipenuhi nada-nada optimis. Ia yakin bahwa suatu saat nanti band-band indie akan mampu masuk ke dalam industri musik mainstream yang sekarang masih didominasi band-band melayu yang cuma bisa mendayu-dayu, kalau bole meminjam istilah Efek Rumah Kaca.

“Istilahnya, sekarang hampir di tiap belokan jalan orang-orang udah pada nyetel lagu-lagu dari band indie. Di playlist HP dan mp3-nya juga terselip lagu-lagu dari band indie. Kalau sudah begini, apakah musik indie masih bisa dikategorikan sebagai non mainstream?” ungkap Owang.

Sebuah pemikiran yang cukup logis memang. Tapi dengan makin menjamurnya band-band indie, apakah jumlahnya berbanding lurus dengan kualitas mereka? “Anak-anak sekarang sudah semakin kritis. Mereka sudah bisa menilai mana band yang bagus dan yang jelek,” Owang menjawab. “Makanya band-band baru sekarang harus lebih hati-hati kalau perform, soalnya penonton di Bandung itu juri semua. Hahaha..,” ia menambahkan.

Namun hal yang tak senada justru diungkapkan oleh Themfuck. Menurutnya penonton sekarang banyak yang kurang mendalami makna dari pergerakan itu sendiri. “Kebanyakan anak-anak sekarang cuma tahu sebatas di permukaannya aja. Misalnya, anak-anak yang menggilai musik hardcore dan punk tapi tidak mengetahui makna dari pergerakan hardcore dan punk itu sendiri. Mereka cuma tahu bahwa punk dan hardcore adalah genre musik. Cuma sampai disitu, tidak lebih,” ucap vokalis Jeruji, band hardcore/punk pionir asal Bandung ini. Saya menemui Themfuck di kantornya di kompleks distro 18th Park, dua hari sebelum interview dengan Owang berlangsung.

“Hal ini sebetulnya cukup aneh. Padahal, sekarang akses informasi sudah tidak sesulit dulu. Internet sudah mudah diakses dari mana-mana. Kalaupun bahasa Inggrisnya agak blah-bloh, di internet juga sudah banyak informasi yang tersaji dalam bahasa Indonesia kok,” ucap Themfuck mengungkapkan kekecewaannya terhadap kebanyakan scenester sekarang yang tampak kurang berminat menggali informasi lebih dalam.

Kalau hal ini terus terjadi, hasilnya tak bisa dibayangkan. Cukup dengan rambut mohawk, celana ketat, aksesoris spike, tattoo di sekujur tubuh, sepatu hansip dan mulut berbau intisari maka kamu sudah bisa disebut sebagai anak punk. Hanya dengan kepala botak, bretel, jeans ngatung, boots pendek dan sebotol bir di tangan maka kamu sudah layak menjadi seorang skinhead. Hanya dengan tanda “X” dari spidol boardmarker murahan di punggung tangan, kamu sudah bisa mengaku sebagai seorang straight edge. Dengan jaket baseball, sepatu sneakers, dan kaos bertuliskan kata-kata provokatif, kamu sudah bisa mengaku sebagai seorang “tough guy” hardcore. Dan sudah tentu tidak perlu dibahas lagi tentang ribuan pemuda yang memakai kaos bergambar Che Guevara dengan bangga, tapi hanya bisa blah-bloh dan cengengesan waktu ada temannya yang menanyakan siapa itu Che Guevara.

Budaya poser seperti ini memang sudah mengakar jauh ke dalam tubuh kebanyakan anak muda, terutama remajanya yang kian tampak seragam dengan rambut berponi miring dan.kaos band berwarna hitam. Tapi di sisi lain, banyaknya remaja yang mengidolakan band-band indie berdampak langsung terhadap pemasukan terhadap band itu sendiri. Dengan honor manggung yang tidak begitu besar, tentu band-band ini mengandalkan merchandise sebagai sumber pemasukan mereka. Hal ini diakui oleh Owang. “Kalo dari hasil manggung sih ngga seberapa. Yang penting sih kita masih bisa bayar kru. Justru merchandise yang bikin saya bisa hidup,” ungkapnya.

Soal tingginya permintaan merchandise band indie juga diamini oleh Themfuck. “Saya pernah bikin proyekan produk baju bertema islam, namanya HardMuslimCore, tapi sekarang malah terbengkalai gara-gara sibuk mengurus permintaan merchandise Jeruji yang jauh lebih banyak,” kata pria yang tahun ini menginjak usia 35 tahun.
Dengan kondisi seperti ini, bisakah band-band ini hidup dari uang hasil manggung dan penjualan merchandise? Tidak juga. Apalagi dengan maraknya pembajakan di negara yang memang gemar bajak-membajak ini. Tidak hanya merchandise band luar saja, tapi merchandise band-band dalam negeri juga ikut dibajak. Bahkan Beside sendiri pernah mengalami kasus dengan sebuah clothing lokal di Bandung yang sudah cukup punya nama besar. Saya pertama kali mendengar hal ini dari Beby, drummer Beside pada sebuah wawancara beberapa bulan yang lalu. Beby bercerita kalau clothing tersebut memproduksi dan menjual merchandise Beside tanpa sepengetahuan mereka. Waktu saya konfirmasi tentang hal ini ke Owang, dia enggan membeberkan tentang hal ini lebih jauh. “Mungkin mereka berani melakukan ini karena dulu distribusi kaset kami ditangani oleh mereka,” kata Owang. Entah duduk perkara kasus ini persisnya seperti apa, karena saya juga belum sempat mengkonfirmasi hal ini ke clothing tersebut.

Bukan hanya merchandise. Lagu-lagu dari beberapa band indie ternama juga sudah bisa ditemukan dengan mudah di penjual CD MP3 gocengan di pinggir jalan. Pertanda musik-musik indie sudah mulai diterima publik mainstream? Bisa jadi. Di satu sisi, pembajakan ini bisa jadi sebuah media promosi yang baik. Di sisi lain, tentu merugikan si band itu sendiri secara finansial. Tapi untungnya hal itu tidak mengurangi banyaknya band baru yang bermunculan. So, what do you seek then? Money, fame, friendship, pleasure? You name it…

Some time in 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s