Pesimis, Motivasi, dan Motivator

“Kawan-kawan super. Semua keberhasilan dan kegagalan seseorang itu berasal dari masing masing orang tersebut, memulai suatu usaha apapun harus dimulai dari sikap dan cara berpikir kita dalam menanggapi berbagai situasi yang akan ditemui dalam mengarungi kerasnya kehidupan ini.”

“Kawan-kawan super. Kita semua ini adalah orang orang yang memiliki kelebihan dan kekurangan, tinggal bagaimana kita mengoptimalkan potensi kelebihan kita dan meminimalkan kekurangan kita, karena keseimbangan ke semua unsur kita adalah kunci sukses yang akan kita raih.”

“Kawan-kawan super. Kita bukan harus berhasil, bukan harus sukses, tapi kita harus mencoba untuk sukses tanpa kenal lelah dan kata menyerah, kegagalan adalah jenjang untuk sebuah kesuksesan bukan harus ditangisi dan disesali.”

“Kawan-kawan super. Pada akhirnya kita harus memilih wanita yang baik untuk istri, pria yang baik untuk suami, dan membangun keluarga yang baik.”

Sudah baca kalimat-kalimat di atas? Kalimat-kalimat itu adalah kata-kata mutiara Mario Teguh yang saya ambil secara acak dari internet. Untuk yang belum tahu, Mario Teguh adalah seorang motivator yang bayarannya termasuk salah satu yang  paling mahal di Indonesia. Kabarnya, mengundang Mario Teguh untuk ngomong “Kawan-Kawan Super” saja perlu dana puluhan juta rupiah. Motivator (yang ngakunya) super dan tarifnya juga super. Super mahal.

Silahkan perhatikan lagi kalimat-kalimat dari sang motivator ‘super’ di atas. Adakah hal yang belum anda ketahui? Kita juga tahu bahwa kita harus memilih pria/wanita yang baik untuk dijadikan istri. Kita sudah tahu bahwa kalau ingin sukses kita harus berusaha. Kita juga tahu bahwa kita tak boleh menyerah dalam berusaha. Kita sudah tahu kalau yang namanya kelebihan dan potensi itu harus dimaksimalkan. Lalu, untuk apa kita membayar jutaan rupiah untuk mengundang motivator kalau semua yang dia bilang itu ternyata sudah kita ketahui?

Jawabannya adalah: People need a motivator to kick their ass. Ini adalah bukti bahwa sikap pesimis sudah mengakar di pikiran banyak orang. Gejalanya adalah tidak percaya diri, merasa gagal, tidak yakin akan apa yang sedang dikerjakan, tidak bisa begini, tidak bisa begitu, dan lain-lain. Karena sikap pesimis itulah, mereka merasa perlu untuk mendengarkan motivator. Padahal, apapun yang dikatakan sang motivator itu sebenarnya mereka juga sudah tahu.

Motivator itu mirip teman curhat. Teman curhat yang dibayar mahal dan diberi gelar bergengsi sebagai pemberi motivasi. Silakan tanya si motivator super, “Pak Mario, bisnis saya bangkrut nih. Apa yang harus saya lakukan?” Kurang lebih jawaban yang akan anda terima adalah “Jangan larut dalam kegagalan. Belajarlah dari kegagalan itu supaya menjadikannya sebuah kesuksesan.” Kalau jawabannya seperti itu, kenapa juga kita harus bertanya? Toh kita juga sudah tahu tentang itu.

Jadi, pekerjaan seorang motivator itu sebenarnya adalah memberi motivasi supaya sisi pesimis dalam diri seseorang bisa berubah menjadi optimis. Tidak usah sekolah S3 atau Ph.D., lulusan SD pun bahkan bisa menjadi seorang motivator. Yang penting bisa mengubah si pesimis menjadi si optimis.

Setiap orang, pasti punya sisi pesimis dalam dirinya. Kalau tidak kuat membayar tarif si motivator super, kenapa kita tidak menjadi motivator untuk diri kita sendiri? Mau kita membayar motivator semahal apapun, toh tetap saja hasil akhirnya kita sendiri yang menentukan. Kita tinggal melihat suatu permasalahan dari sudut yang berbeda dan mengambil sisi positif dari permasalahan tersebut.

Kalau suatu permasalahan dilihat sisi negatifnya, hasilnya adalah pesimis. Kalau diambil sisi positifnya, yang muncul adalah optimis. Jadi mau pilih yang mana, kawan-kawan super?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s