vickyvette

The Don Torro Interview: VickyVette

Bukan. VickyVette yang ini bukan si pornstar yang sempat bikin heboh di Twitter gara-gara doyan nge-tweet tentang Timnas Indonesia, Peterporn dan Tifatul sembiring. VickyVette yang ini adalah sebuah band experimental rock yang beranggotakan Muhammad Rayhan Sudrajat, Raden Prajadipha Akbar Wiriadinata dan Mohammad Shadian Merwyn. Nama bandnya sendiri bukan ingin menunjukkan bahwa mereka adalah penggemar berat sang pornstar, melainkan “Kami ingin musik kami seliar Vicky Vette di video-videonya,” ungkap Rayhan.

Ucapan Rayhan memang terbukti benar. VickyVette mengeksplorasi musik mereka dengan liar dan tanpa batas, menghasilkan lagu-lagu yang kaya, megah dan kontemplatif. Nama mereka pun tercatat sebagai salah satu finalis Indiefest vol. 3 di tahun 2008.

Di tahun 2010, mereka merilis EP “Unconscious Shimmering” yang berisi 7 lagu, dengan sistem free download. Disambung dengan single “Into The Universe” di akhir tahun, yang berisi dua lagu dan tiga instrumental pendek dan tetap disebar secara gratis, sebagai jembatan menuju full album mereka yang akan direkam dan diluncurkan tahun ini.

Dengan konsep ruang, waktu, jagat raya dan singularitas dalam materi terbaru mereka, VickyVette telah menunjukkan bahwa mereka adalah salah satu local talent yang harus diwaspadai saat ini. Lagu-lagu mereka memang bukan musik yang bisa dinikmati dalam potongan mono 30 detik dalam bentuk RBT, melainkan untuk didengar, diresapi, dan diterjemahkan dengan cara kita sendiri. Sejauh ini, eksperimen mereka memang berhasil. Bahayos!

vickyvette

Siapa yang punya ide pake nama bintang bokep?

M: Jadi dulu itu nama bandnya Vicky Vette 7. Dia (Reyhan) sama bassis kita yang dulu, sering maen ke salah satu warnet yang di deket SMA 8. Dan warnet itu udah terkenal, domainnya untuk porn itu banyak banget dulu. Dan kata temen-temen saya ini bilangnya dulu itu Vicky Vette bikin film baru ada 7 film. Jadi dinamainlah Vicky Vette 7. Dan soalnya dia kan porn actress senior juga tuh. Umurnya juga udah 40-an kan sekarang. 46 kalo ngga salah.

Tapi kalau di-search di Google, yang muncul kan Vicky Vette yang di Amrik?

P: Nah, makanya. Kita sudah mengakalinya dengan membuang angka 7 itu dan mengetikkannya tanpa spasi. Kalau itu, pasti beda yang munculnya. Apalagi, kalau ada kata-kata Bandungnya. Hehehe..

Bisa cerita tentang single terbarunya, “Into The Universe”?

Temanya sendiri bercerita tentang alam semesta, ruang, waktu, dan singularitas. Dari pemilihan sound, kita pikirin bener-bener. Dan kalau didengerin dengan jeli, di lagunya itu ada detail-detail kecil yang mewakili setiap tema itu.

Dan kenapa harus dirilis di akhir tahun, 28 Desember?

R: Pertama, ya untuk hadiah akhir tahun. Kedua, juga memperingati into the universe ini. Dunia kan berubah pada 2011. Tadinya mau tanggal 30 Desember malah. Jadi bukan Desember, bukan Januari. Bukan 2010, bukan 2011. Tadinya mau seperti itu. Tapi dipikir-pikir, ngga mungkin sekompleks itu juga.  Saya sama temen-temen sih maunya keluarnya tanggal 31 Desember menuju 1 Januari, ditengah-tengahnya. Bukan 2011, dan bukan 2010 juga. Saya sendiri juga ngga tahu itu apa. Mungkin semacam tahun kabisat, dalam 4 tahun sekali. Momen-momen kayak gitu yang kita pilih untuk mengeluarkan single.

P: Akhir tahun itu kan berhubungan dengan perubahan waktu. Jadi ya berusaha mengaitkan juga.

Kenapa lagu-lagu yang kalian buat itu rata-rata temanya berat?

R: Itu merupakan bonus sih kalau menurut saya. Kenapa berat? Karena mungkin, untuk membahas hal yang biasa-biasa saja, mungkin orang lain sudah ada yang membahas. Misalnya, percintaan kan klise semuanya. Kita juga udah tahu apa yang terjadi, ngga usah dibahas lagi. Jadi mengedukasi sih intinya. Apa yang orang lain ngga tahu, kita sebarkan melalui lagu. Semoga lebih masuk lagi, orang mengerti, bahwa apa hal-hal yang diluar kajian otak mereka sebenarnya bisa dikaji lagi. Dengan begini mereka lebih paham, lebih alert. Semacam reminder.

P: Berat atau ngganya itu kan relatif. Tapi kalau di musik saya lebih memposisikan saya sebagai diri sendiri, dengan usia yang baru sekian dan saya melihat dunia yang seperti ini. Saya cuma menyampaikan “Oh, saya pernah nih memikirkan tentang ini. Bagaimana menurut anda?”

R: Tapi dari sudut pandang kita ini semuanya. Pertanyaan yang ngga ada jawabannya itu kan namanya singularitas. Kalau kita runut-runut dari berbagai sudut pandang, semuanya itu kan berbeda. Dari sudut ilmu pengetahuan apa, dari sudut agama apa. Itu singularitas. Belum tentu semuanya ada jawabannya. Yang penting kita sudah paparkan

M: Ini juga bisa disebut sebagai penjelasan kalau kita bikin musik itu ngga main-main. Ada pesan, ada poinnya disana.

R: Dari semua yang kita buat, semua yang kita rekam, semuanya ada artinya. Bersandar pada satu tema, dan diperluas lagi.

M: Kalau saya boleh menambahkan, silahkan mendengar, silahkan merasakan Vickyvette, dan pecahkan sendiri misterinya.

Lalu, kenapa sampai sekarang rilisannya selalu free download?

R: Soalnya kita ngga pengen orang kesulitan untuk mendapatkan musik kita. Ngga harus membeli sesuatu, ngga harus selalu diukur apa yang lu beli, apa yang lu dapet. Ngga. Kita cuma pengen ngasih aja apa yang bisa kita kasih, dan semuanya itu free.  Jadi ngga ada kesusahan untuk orang-orang dapetin materi lagu kita.

Tapi biaya produksinya itu sendiri ngga murah bukan?

R: Ngga harus selalu selalu diukur dengan apa yang kita keluarkan, apa yang kita dapatkan. Ngga harus selalu begitu. Untuk apa yang sudah kita keluarkan, kita memang berharap ada timbal baliknya, tapi ngga seperti itu juga. Mungkin kan di beberapa waktu kemudian, beberapa album kedepan, kita bisa rubah strategi kita dan menjual itu semua, mungkin. Tapi untuk saat ini kita tidak melihatnya seperti itu.

Terus modal untuk rekamannya dari mana dong?

A: Kadang kalau dompet manajemen lagi penuh, ya kita pakai uang manajemen. Tapi kalau lagi ngga ada, ya patungan atau jual barang apa lah. Kita sih fleksibel aja, ngga harus pake uang sendiri-sendiri juga.

P: Manajemen itu kan sumber dananya dari penjualan kaos, atau fee manggung. Kalau saya sendiri sih, saya banyak ngambil dari duit beasiswa. Hahaha.. Modal saya yang paling utama dari situ. Kalau udah mentok banget sih ya jual alat yang ngga kepake.

Jadi kalian nganggapnya ini sebagai investasi, amal, atau apaan nih?

P: Kalau kita sih lebih memposisikan diri kita sebagai musisi. Jadi kita bikin musik, bukan dagang musik. Diluar kita, ada yang memang berprofesi untuk itu sedangkan kita ya jati dirinya di musik.  Jadi ya kita bikin musik.

Full albumnya nanti, akan free download juga?

A: Saya sendiri sebenarnya masih termasuk yang kurang menghargai karya juga sih. Masih sering copy paste, masih sering download. Jadi sampai saat ini belum ditentukan albumnya nanti bakalan dijual atau digratiskan. Tapi mungkin sebuah karya kadang harus dihargai juga. Jadi buat full album nanti, kayaknya akan dijual.

P: Mau melakukan pembelajaran juga ke penikmat musik, bahwa musik itu perlu dihargai. Sebenarnya ngga rugi membeli musik itu. Kadang saya berpikir, ngga ada salahnya kalau kita menyisihkan sedikit uang kita untuk membeli musik. Asal, masih dalam nominal yang masuk akal. Contohnya, tiket Maroon 5 yang 700 ribu itu kalau orang memang minat kan pasti dibeli. Kalau kita menilai karya kita cukup bagus, ya ngga ada salahnya kita mencoba untuk menjual.

A: Saya pikir, support itu ngga cuma sekedar datang ke gigs. Kan ada juga tuh orang yang datang ke gigs tapi masuknya pengen gratis, dan albumnya pun free download. Kadang saya mikir support itu ya karyanya jangan dibajak, datang ke gigs ya bayar tiket. Pokoknya menurut saya supaya scene Bandung ini maju, kita harus menghargai mereka lebih dari sekarang. Menurut saya sekarang masih kurang. Meskipun dari tahun kemarin udah ada perkembangan, -banyak band indie yang udah berani bikin launching dengan tiket mahal dan banyak yang nonton- tapi menurut saya kondisi sekarang masih kurang, untuk mencapai sesuatu yang bener-bener ‘indie’.

Pengeluaran paling besar kalian untuk membeli musik?

M: Saya sih beli tiket Java Jazz Festival kemarin, yang buat tiga hari.

R: Saya paling beli vinyl-vinyl bekas di Cihapit. Soalnya saya penggila barang bekas juga. Pernah borong sampe 20 vinyl. Habis sekitar 150-200 ribu waktu itu.

P: Kalo saya, beli tiket Copeland! Hahaha.. Sama beli gear juga, sekalian investasi dan nambah pengetahuan saya tentang audio dan sound engineering.

Mengantisipasi pergeseran trend juga, dimana sekarang jualan fisik udah susah?

R: Nah itu. Kan tahun 80-an, 90-an semua orang dihargai dengan kaset, dengan CD. Dihargai dengan platinum awards ribuan keping. Tapi kan sekarang perkembangan teknologi ngga bisa dihindari lagi. Toko-toko rekaman juga udah mulai pada bangkrut kan. Sekarang orang udah tinggal download-download aja, bebas banget.

Jadi ngga berharap balik modal nih?

P: Ya bukan berarti seperti itu juga. Kita nganggap itu sebagai bonusnya. Tapi tujuan utama kita bukan disana. Jadi mengapresiasikan apa yang kita suka, apa yang kita dengar setiap hari.

Dalam prosesnya, yang lebih kalian nikmati itu waktu rekaman di studio atau perform di panggung?

M: Semuanya sih. Ada kesenangannya masing-masing, jadi ngga bisa kita favoritin. Dua-duanya punya kesenangannya sendiri-sendiri, jadi ngga bisa kita favoritin salah satunya.

Kalian lebih nyaman dengan embel-embel ‘indiefest’ atau image kalian sendiri?

A: Waktu pas indiefest kan saya belum megang si VickyVette nih. Saya baru megang mereka setahun terakhir ini. Yang saya rasain, dan saya ngga bermaksud menjatuhkan ya, karena waktu itu indiefest memang bagus visi dan misinya, bahwa mereka ingin majuin band-band indie. Tapi sampai sekarang kok kita ngerasainnya kok kayak yang udah dipake, terus udah aja gitu. Makanya kita sekarang lebih nyaman dengan diri kita sendiri aja. Lebih deket ke komunitas, welcome ke orang-orang, ngga angkuh. Gitu lah.

Jadi pada mengakui maniak bokep semua nih?

M: Ngga gitu juga lah. Kayak minum aja. Kamu ngga maniak minum, tapi butuh minum kan? Ini juga kayak gitu. Saya butuh, dan saya bukan homo.

Kenapa demo itu dikeluarin sebagai E.P?

R: Mungkin banyak orang yang belum kenal kita. Jadi waktu demo kita keluar itu kita ada rencana “okelah kita keluarin ini 6 lagu yang udah kita tracking” Tapi saya mikir, kalo orang ngga tahu apa-apa kan “Ini kok kayak yang ngga ada introductionnya, ngga ada perkenalannya, gitu. Nah jadi sebelum kita tracking dua lagu kita yang terakhir itu kita ngeluarin demo-demo kita dari 2006, 2007, 2008 di pack dengan versi demo live. Itu belum ada mixing sama sekali, dan kita bagiin gratis dimana-mana. Setelah ngerasa cukup, baru kita ngerilis EP kita.

R: KJita tuh tadinya pengen bikinnya album, bukan sebagai EP. Kalo misalkan kita album, nanti tidak sesuai dengan ekspektasi orang. Makanya kita pilih EP. Dari

Yang EP itu, demo yang direkam ulang?

M: Rekam ulang semuanya, karena hasil yang terdahulunya emang ngga begitu bagus. Maksudnya biar lebih asyik aja, makanya direkam ulang aja semuanya.

Kalian terlihat lebih maksimal di panggung kecil dibanding di panggung besar. Kenapa?

P: Jadi kalo di acara gede, kita disana itu cuma sebagai pelengkap. Banyak keterbatasan disana, termasuk saat checksound. Tapi kalo di tempat kecil yang kita jadi guest star disana, ya kita bisa ngatur sedemikian rupa supaya kita bisa menampilkan  VickyVette yang sebenarnya, dengan lebih maksimal.

5 thoughts on “The Don Torro Interview: VickyVette

  1. ini kutipan interview, atau interview pribadi? Pertama kali tahu band indie ini dari album LA light indiefest vol.3. Kaget juga pas nyari lirik lagunya yang keluar malah bintang porno. haha

    1. Interview pribadi untuk majalah tempat saya bekerja, sekalian saya posting juga disini.. Sulit sekali untuk tidak jatuh cinta saat mendengar lagu mereka memang.. Waktu saya mencari informasi tentang mereka untuk bahan interview juga cukup sulit, karena konsentrasi terpecah oleh link-link yang memajang gambar tante-tante pirang berdada besar itu.. haha..

  2. hoo.. wartawan ya? editor? fotografer? newshunter?

    Sayang publikasi vickyvette kurang. Mungkin pengaruh nama juga kali ya yang membuat segmen pasarnya kecil. Suka sama aransmennya padahal.

    Tapi gak tertarik sih sama si tante-tante pirang ini, selain udah tua, juga nggak natural.

    1. Apa ya? Fotografer iya, nulis juga iya, ngedit kadang-kadang.. Jabatan resmi di kartunya sih ‘reporter’..

      Mungkin juga karena musiknya yang memang cukup berat.. Terutama untuk ABG, yang memang menjadi pasar terbesar untuk musik, -indie maupun mainstream. Tapi kalau menurut saya pribadi sih publikasi yang minim itu salahsatunya karena di scene musik Bandung sendiri terlalu banyak ‘supply’ daripada ‘demand’. Banyak band dan musisi yang bagus, sementara komunitas pendengarnya masih yang itu-itu juga.. Jadi begitu satu band sedang menanjak, tiba-tiba ada band baru lagi yang muncul dan tidak kalah bagus. Jadi mereka sulit mendapat exposure secara maksimal..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s