flower city rollin

The Don Torro Interview: Flower City Rollin

Flower City Rollin adalah band ska paling hot saat ini dari kota kembang  yang beranggotakan Migo  (vocal/ harmonica/ ukulele), Ihsan (gitar), Odhon (gitar), Dhimas (bass), Grady (organ), Zali (drum), Dudi (trumpet/pianica), Ivan (tenor saxophone), Rudi (alto saxophone) dan Wildan (trombone). Sejak resmi terbentuk bulan Februari tahun lalu, nama mereka langsung menanjak di scene lokal. Sebuah kondisi yang -menurut mereka-  di luar perkiraan.

Tiga lagu yang sudah direkam, “You Come and Go”, “Across the Island” dan “Flower City Rollin” bisa didownload gratis di halaman web mereka. Berisi musik ska era 80-an yang menyajikan irama upbeat yang sangat pas dipakai berdansa, bernyanyi dan bersenang-senang.

Belakangan, Flower City Rollin juga gencar menyuarakan kampanye tentang pentingnya donor darah. Bahkan di konser perayaan ulang tahun pertama mereka Palang Merah Indonesia (PMI) juga tercatat sebagai salah satu sponsor. Setelah ini, what’s next? Mari kita cari tahu lebih banyak…

Flower City Rollin

Mari kita buka dengan pertanyaan paling standar di dunia: Kenapa namanya Flower City Rollin?

Ihsan: Flower City Rollin itu maksudnya menggambarkan kultur di kota Bandung yang selalu berputar. Tapi di sisi lain rollin itu maksudnya dari rock’n roll, berdansa.

Kalau berdansa, kenapa bukan Flower City Dancing atuh?

Ihsan: Soalnya kita bukan grup dansa. Hahaha.. naon nyak?

Migo: Kalo dansa itu alami, pada awalnya kita melihat musik yang dihasilkan oleh orang kulit hitam khususnya, itu dominan menyebabkan badan itu bergoyang. Jadi itu terjadi secara alami.

Ska itu identik dengan musik dansa, bukan?

Migo: Ya. Karena itu orang yang mendengarkannya secara otomatis bakalan bergoyang. Minimal jempol-jempol wae mah.

Selama 1 tahun kalian berdiri, apa pencapaian kalian sekarang sudah sesuai target?

Ihsan: Malah lebih dari yang diharapkan. Ini bukan perbandingan dengan maksud meninggikan atau merendahkan siapapun ya, tapi ketika saya melihat dan mendengar salah satu pengakuan dari founder-founder band lain, mereka cukup kagum. Karena alhamdulillah selama satu tahun ini setiap bulannya kita tidak pernah luput dari beberapa movement. Tiap bulannya pasti ada manggung lah.

Kendala band baru kan biasanya disitu, kadang susah untuk manggung..

Ihsan: Ya alhamdulillah mungkin karena kedekatan setiap personilnya dengan teman-temannya, jadi setiap informasi yang masuk itu lebih mudah dan banyak. Dari jumlah personil kita sendiri kan ada 10 orang, otomatis ada 10 informasi yang berbeda dari beberapa tongkrongan.

Jadi itu tipsnya ya biar ngga sepi order manggung? Ngambil personil dari tongkrongan yang berbeda?

Ihsan: Sangat! Sangat betul! Hahaha..

Kalau ‘second wave ska’ itu sendiri maksudnya apa?

Migo: Jadi kalau dilihat sejarahnya, ska itu kan asalnya dari jazz. Jazz turun ke calypso, dan akhirnya menjadi ska. Lalu seiring berjalannya waktu ada momen-momen juga yang terjadi. Waktu itu second wave ska itu berawal waktu munculnya imigran-imigran dari Jamaika ke Inggris dan berbaur dengan orang-orang Inggris. Terjadi diskriminasi rasial disitu. Jadi, secondwave ska, atau lebih dikenal dengan nama two tone itu identik dengan dua warna: hitam  dan putih. Itu maksudnya menggabungkan kedua warna itu, jadi tidak ada diskriminasi warna kulit. Isu itulah yang ingin disampaikan oleh gerakan secondwave ska sendiri.

Jadi itu kenapa kalian selalu manggung dengan kostum hitam putih?

Migo: Kalau secara fashion, ya. Kita memang tidak mendiskriminasikan manusia dengan warna kulitnya, memang. Tapi ada sisi lainnya juga, salahsatunya adalah pembetukan image dari band itu sendiri.

Sekarang sudah 12 tahun berlalu sejak booming ska di Indonesia pada akhir 90-an. Menurut kalian akankah terjadi seperti itu lagi?

Migo: Bahwa trend berputar itu sangat jelas. Sekarang saja kita membawakan ska yang diluar sana sudah booming sejak tahun 50-an, 60-an. Itu sebuah bukti bahwa yang namanya genre musik itu tidak akan pernah mati dan terus berputar seperti kita menamakan diri kita, ‘Rollin’.

Jadi kalau misalnya scene ska sedang redup, kalian akan jalan terus?

Migo: Iya, jalan terus, karena memang harapan kita seperti itu. Kita membuat band ini memang bukan karena trend. Karena kita suka, bukan karena diprediksikan akan atau sedang menjadi trend. Sama sekali ngga seperti itu.

Sempat ada ketakutan kalau ska bakalan redup lagi ngga sih?

Ihsan: Kalau yang namanya rejeki mah insyaallah ngga akan salah alamat. Lagipula kami membentuk band ini karena memang kami suka. Kalau misalnya kami membuat band dengan suatu ekspektasi atau suatu bisnis, mungkinakan  ada ketakutan seperti itu. Tapi untungnya kami ngga mengarah kesana, jadi ketakutan seperti itu tidak ada.

Full album targetnya kapan nih?

Ihsan: Sebenarnya kita sempat kepikiran mau merilis full album di bulan Februari ini. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, rasanya kami belum siap juga untuk kesana, dan materinya juga masih belum cukup matang. Paling nanti di pertengahan tahun kita bakalan merilis single, yang untuk pertamakali memakai lirik berbahasa Indonesia. Dari situ, baru kita menuju ke target yang lebih besar, yaitu full album. InsyaAllah bulan Desember, kalau semuanya lancar. Amiiin!

Amin! Benar-benar matang ya persiapan untuk albumnya?

Ihsan: Iya, kalo ngga nanti jadinya kayak di EP. Sebenarnya itu (materi EP) belum matang. Cuma waktu itu (dirilis) karena semangat yang menggebu-gebu, euphoria lah.

Odhon: Harus, biar jadinya ngga “cawerang” (hambar).

Albumnya nanti mau diproduksi sendiri atau kerjasama dengan record label?

Migo: Kita sih ngga menutup kesempatan-kesempatan yang ada. Apapun tawaran yang datang, kita akan pertimbangkan. Dan lagi kita memang berusaha untuk mandiri. Maksudnya, kalau ngga ada orang yang datang menjemput ya kita akan mengantarkan sendiri bolanya. Kita akan rekaman sendiri, mengedarkan sendiri. Kita tetap punya kuasa penuh untuk hal-hal yang semacam itu.

Kalau dari kaliannya sendiri, lebih enak DIY (Do It Yourself) atau kerjasama dengan pihak lain?

Ihsan: Kalau itu, tiap personil pasti punya jawabannya masing-masing. Kalau saya pribadi sih karena sudah terbiasa sendiri ya lebih enak sendiri.

Odhon: DIY and your friend lah…

Bicara kondisi sekarang, jualan album kan sudah makin susah karena maraknya bajakan dan download. Album kalian bakalan dijual atau digratiskan?

Ihsan: Nah, ini pasti beda-beda lagi nih jawabannya. Cuma kalau saya sih inginnya gratis. Saya ngga peduli misalkan nanti band ini (albumnya) akan laku atau tidak. Tapi yang pasti, kepuasan batin ini sudah cukup terpenuhi. Ngga tahu tuh kalau Migo kayak gimana.

Migo: Kurang lebih sama sih ya, karena begini:  Yang lebih penting dari hasil karya itu adalah bukannya laku terjual atau tidak, tapi bagaimana supaya orang juga bisa ikut mendengar dan mengapresiasi. Jadi misalnya kita cuma rilis 10 (keping) tapi tiba-tiba di Kota Kembang (bajakannya) ada beribu-ribu kita ngga peduli. Paling nanti kita minta Mercy satu.. Hahaha..

Di internet, kalian sering sekali bicara tentang donor darah….

Ihsan: Awalnya begini, sebenarnya kesadaran diri juga sih. Ketika saya lihat disini (scene) banyak dipandang sebelah mata oleh beberapa pihak karena ada kejadian negatif seperti gigs yang menimbulkan korban atau ada yang mabuk-mabukan. Sebenarnya kalau dilihat dari musiknya sendiri, sebenarnya itu kan positif. Jadi kita ingin memperlihatkan bahwa musik itu punya hal-hal positif yang lain. Salahsatunya yang paling mudah sekarang ini ya donor darah. Pokoknya seperti yang orang bilang, “Make a movement, not just a trend.” Jadi kita benar-benar mendedikasikan musik kita ke arah itu, untuk movement yang lebih baik.

Ada keterikatan khusus dengan PMI?

Migo: Kita sih menjalin hubungan dengan siapa saja. PMI itu ya salah satunya. Dengan kita mengadakan movement donor darah semacam ini otomatis kan kita membuka kerjasama dengan PMI. Soalnya, motto hidup kita itu “someah” (ramah). Seperti itulah, beramah-tamah dengan orang lain.

Kalau kondisi scene ska lokal sendiri menurut kalian bagaimana?

Migo: Secara umum sih oke yah. Banyak band baru yang muncul. Terlepas dari apakah mereka hanya mengikuti trend atau tidak sih itu urusannya masing-masing. Individual. Cuma dengan bermunculannya band-band baru, apresiasi dari komunitasnya sendiri jadi lebih terekspos. Bagus untuk perkembangan komunitasnya sendiri.

Dari movement band-bandnya sendiri, terasa ngga? Misalnya seperti kalian yang membuat movement donor darah..

Migo: Kalau seperti itu, kita belum lihat sih sampai sejauh ini. Yang kita lihat, band ska dari Indonesia khususnya, paling baru Shaggy Dog dengan gerakan pecinta orang utannya. Sisanya sih kita belum lihat movement yang real-nya. Tapi mudah-mudahan dengan kita bikin movement donor darah ini bisa memicu band-band lain untuk membuat movement-nya sendiri-sendiri.

Jadi, apa sebenarnya tujuan kalian membuat band ini?

Ihsan: Lebih ke kepuasan batin sih..

Dudi: Kepuasan batin juga. Hobi. Kalau ada uangnya Alhamdulillah, kalau ngga ada uangnya ya harus ada. Hahaha.. Jadi apa yang dilakukan itu ada impactnya. Ya, minimal ongkos-ongkos wae kah kagantian lah. Hahaha…

3 thoughts on “The Don Torro Interview: Flower City Rollin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s