Koil Live @ Sasana Budaya Ganesha

Koil Killer Concert: Konser “Unyu” Of The Year

 

Koil Live @ Sasana Budaya Ganesha

Sasana Budaya Ganesha, tanggal 24 Februari 2011 akan menjadi tempat dan hari yang sangat bersejarah bagi Koil. Band industrial rock dari kota kembang ini menggelar konser tunggal untuk yang pertama kalinya sepanjang karir mereka. Sudah 18 tahun terbentuk, baru kali ini mereka tampil dalam konser tunggal dan membawakan 20 lagu sekaligus.

Semua tiket yang tersedia sudah sold out sejak jam 4 sore, padahal konser rencananya baru akan dimulai jam 7 malam. Hal ini menyebabkan banyak calon penonton yang gigit jari karena tidak kebagian tiket. Padahal, panitia sudah menjual tiket tambahan. Bagusnya, panitia menyediakan big screen di area luar Sabuga untuk penonton yang tidak kebagian tiket. Tampaknya mereka sudah bisa meramalkan kalau konser ini akan sold out.

Penggarapan untuk konser ini terbukti sangat serius. Untuk masuk ke venue, penonton terlebih dulu melewati sebuah lorong hitam panjang dengan hiasan lampu yang berkelap-kelip di dindingnya. Begitu keluar dari lorong tersebut, penonton langsung disambut oleh giant figure para personil Koil  yang terletak di beberapa sudut. Banyak penonton yang berfoto disana. Suasananya, mirip dengan yang biasa dilihat di konser-konser artis internasional di Senayan.

Masuk lebih jauh ke dalam, ada booth merchandise Koil yang menjual segala macam barang mulai dari fanzine seharga 3.000 rupiah sampai sepatu boots New Rock yang harganya mencapai jutaan rupiah.

Sebelumnya, Koil sudah memperingatkan penonton untuk tidak lupa membawa uang. “Bawa wang yang banyak., Boros pangkal kaya,” tulis mereka di akun Twitter @koilkarat. Yang jelas untuk menebus harga tiket konser mereka hari itu tidak perlu uang berjuta-juta, karena harganya hanya 25.000 rupiah saja.

Tepat jam 8 malam, Koil membuka konser dengan “Nyanyikan Lagu Perang”.  Mundur 1 jam dari jadwal aslinya. Dekorasi panggungnya kental dengan nuansa gothic. Dua patung besar berdiri tegak di kiri-kanan panggung. Di bagian depan panggung, terdapat tiga buah tempat lilin berbentuk bulat bertuliskan “blacklight”. Dua buah per berukuran besar tertancap di panggung. Masing-masing menyangga sebuah laptop dan akordion yang dimainkan oleh sang vokalis, Jupiter Aryo Verdiantoro alias Otong. Tiga personil lainya, Donnijantoro (Gitar) Adam Joswara (bass) dan Legoh Leon Ray (drum) berdiri tegap dibalik instrumennya masing-masing.

“Kita lanjut ke lagu berikutnya yah, judulnya ‘Yunomisowel’” kata Otong. Jelas Otong cuma bercanda, karena lagu yang dibawakan berikutnya adalah “Aku Lupa Aku Luka”.

Sepanjang show, Otong juga selalu mengingatkan penonton agar tertib dan tidak rusuh. “Tidak ada yang nyopet, tidak ada yang mukul-mukul yah. Peace! Kalo ada yang nyopet, jangan digebukin juga. Bawa aja kesana, nanti ada yang memproses,” ucapnya sambil menunjuk ke arah backstage.

Di pertengahan show, mereka beralih ke set akustik. Lagu “Kesepian Ini Abadi” dimainkan. “Lagu Hujan” menyusul kemudian, lengkap dengan taburan confetti di sepanjang lagu. Yang paling ajaib adalah ketika Koil memainkan “Murka” yang diaransemen ulang sehingga menjadi bergaya musik swing. “Kalau kalian menyangka Koil itu band metal, salah. Musik kami dari dangdut sampai keroncong,” kata Otong sebelum lagu tersebut dibawakan. Swing rasa gothic itu pun terasa makin lezat dengan tambahan suara angelic milik Risa Saraswati yang malam itu berperan sebagai backing vocal. Lezatos!

Sing along penonton cukup sering terdengar malam itu. Bahkan untuk legu-lagu yang sebelumnya jarang dibawakan. Entah itu karena penonton memang die-hard fans yang hafal seluruh lagu koil, atau karena penonton yang hadir telah mengerjakan PR-nya menghafal lirik. Di internet, beberapa hari sebelum konser ini Koil memang memberi bocoran seluruh lagu yang akan dibawakan, berikut liriknya sekaligus.

“Maafkan, kami tidak bisa membudayakan dan menerapkan ‘we want more’,” kata Otong sebelum membawakan “Kenyataan Dalam Dunia Fantasi” sebagai lagu terakhir. Dan kenyataannya memang tidak ada encore sama sekali. Semburan kembang api yang menjadi penutup konser terasa sangat standar untuk band yang penuh kejutan seperti Koil. Tapi secara keseluruhan konser malam itu terasa sangat memuaskan. Konser lokal berkelas internasional. Mereka berhasil membuktikan bahwa mereka adalah salah satu band cadas terbesar  sekaligus paling ‘unyu’ di negeri ini. This is definitely one of the best local show of the year..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s