Daripada Cuma Protes, Kenapa Tidak Berbuat Saja?

Sebuah teaser dari “Hope”, sebuah video dokumenter karya Andibachiar Yusuf yang menceritakan tentang pergerakan mahasiswa. Hope adalah sebuah gambaran Indonesia masa kini, 12 tahun setelah saat yang disebut sebagai masa reformasi yang saat itu dikabarkan sebagai arus balik sejarah bangsa ini yang disebut dinaungi kegelapan di era Orde Baru.

Pada salah satu bagian wawancara, Pandji Pragiwaksono mengatakan “Indonesia akan begini-begini aja kalo loe cuma bisa protes.” Untuk poin yang satu ini, saya sangat setuju. Demonstrasi demi Indonesia, tapi bendera yang paling besar adalah bendera organisasinya, bukannya merah putih. Jadi lebih mirip promo campaign terselubung. Kalau mau lebih sinis lagi, seperti yang ingin dipuji. Ingin eksis.

Yang selalu mereka teriakkan adalah “Hidup Mahasiswa!”

Bukannya “Hidup Rakyat Indonesia!”

Padahal, katanya yang mereka suarakan adalah suara rakyat. Mengeksklusifkan diri? Entahlah..

Di video ini, ada juga wawancara dengan Otong Koil, seperti biasa dengan sindiran sinisnya yang pedas. Pedas, tapi nyata. Silahkan dengarkan sendiri. Kalau koneksi internet anda lambat, jangan kuatir. Saya juga membuat transkripnya di bawah ini supaya anda bisa baca.

Hari ini, orang yang memprotes pemerintah, 10 tahun ke depan dia jadi pemerintah. Berapa tahun lalu mahasiswa-mahasiswa yang berkoar-koar reformasi, hari ini jadi koruptor-koruptor dimana lah, ga tau. Buat gua sih bagus aja, karena dia bisa mendapatkan uang untuk keluarganya, bla bla bla..

Kan yang goblok sih siapa? Yang goblok sih yang nonton.. Yang goblok adalah penonton.. Yang pada akhirnya seumur hidupnya protes terus. Nonton berita protes terus. Kasihan, gitu. Untuk orang-orang bermental pembantu kayak tadi, itu sangat kasihan. Dan 99,999 persen rakyat Indonesia itu kayak gitu.

Nah, gue juga ngga terlalu peduli sama mereka. Bukan berarti gue ngga melakukan perubahan apa-apa, tapi setidaknya gue sudah mengeluarkan album yang isinya, yah, kalo lu bisa mengerti lirik-lirik ini coba dipraktekin lah dalam hidup lu. Berhentilah protes, berhentilah menjadi orang yang naïf..

Angka 99,999 persen yang disebut Otong mungkin cuma sebuah kiasan saja. Tapi, ya, Indonesia saat ini terlalu banyak dipenuhi generasi manja yang hanya bisa protes. Yang bermental tempe, merasa berhak mengkritik tapi tidak mau menerima kritik. Ya, kalian selalu berdemonstrasi. Selalu mengkritik pemerintah untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik. Tapi, selama ini apa yang sudah kalian lakukan untuk negara kalian? Adakah?

Coba simak lirik lagu KOIL di bawah ini..

Tidakkah kau bosan menyanyikan keluhan
Mengharap belas kasih atas mental pengangguran

Pasti ada cara untuk mencari uang
Pasti ada cara untuk bersenang-senang
Badai pasti datang kita tak akan menang
Mengapa harus bimbang?

Kita orang pintar dengan otak bersinar
Hanya perlu semangat untuk hidupi rakyat

(Koil – Nyanyikan Lagu Perang)

Apakah anda masih belum bosan mengeluh?

3 thoughts on “Daripada Cuma Protes, Kenapa Tidak Berbuat Saja?

  1. well,,,saya suka protes dan tulisan anda ini adalah tulisan protes tentang org2 yang suka protes. anyway apakah protes itu sama dengan mengeluh?
    saya protes dengan tulisan anda.
    saya harap orang2 suka protes.. karena minimal disana ada kesadaran, bukan meminta belas kasihan seperti pengemis tapi menunjukkan kemarahan kepada mereka yang membuat pendidikan begitu mahal, sehat begitu mahal, harga tidak stabil…itu hak kita untuk marah. dan itu bukan naif. dan itu bukanlah mental abdi dalem. karena seorang abdi dalem akan terkukung budaya feodal “nrimo”.
    semua org bebas menunjukkan rasa marahnya koil akan mencipta lagu,iwan fals akan berteriak “bongkar”, para penulis akan menulis, mahasiswa boleh turun kejalan, buruh tani boleh sweeping pabrik,dsb dsb….
    kita harus senang jika ada org yg nunjukkin kebenaran siapapun dia dan apa bendera yg dia bawa.
    beberapa bulan lalu, demonstrasi besar2an melanda london…mahasiswa menduduki gedung2 bertingkat dan tumpah kejalan mereka begitu masif, mereka melempari gedung parlemen. mereka menuntut agar biaya pendidikan tidak naik, dan itu konkrit karena pemerintah akhirnya men-suspend kebijakan tsb. di prancis, serikat buruh sangat kuat dan mempunyai bargaining power terhadap elitnya, karena jika elit menindas mereka akan teriak dan protes. itulah sebuah negara yang mapan, rakyat akan marah dan itu biasa,,,indonesia belum siap seperti itu krn kesadaran itu emg ga dibuat disini, dibodohi. klo disini ada org ngomel2 paling temen disebelahnya cuma bilang “ah maneh kawas nu bener weh…osok mabok keneh rea ngomongkeun nagara”….well pathetic, kebiasaan protes pada elit disandingkan pada moral…padahal elit tidak lebih bersih dari rakyat.

  2. Nah. Ini tanggapannya asyik ini. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk menulis tanggapan yang panjang ini. Saya pribadi suka kalau diprotes, karena saya tidak termasuk golongan orang-orang yang suka protes tapi tidak mau diprotes. Semoga anda juga tidak.

    Mengenai apakah protes itu sama dengan mengeluh, itu tentu saja perlu pengkajian lebih lanjut karena masing-masing orang pasti punya pendapatnya sendiri mengenai hal ini. Tapi, ya, tulisan ini memang berdiri diantara keduanya, protes dan mengeluh. Sebuah protes dan keluhan terhadap orang-orang yang suka protes. Sebuah penyesalan, mengapa protes mereka tidak dilanjutkan menjadi sebuah pergerakan yang lebih besar?

    “saya harap orang2 suka protes.. karena minimal disana ada kesadaran, bukan meminta belas kasihan seperti pengemis tapi menunjukkan kemarahan kepada mereka yang membuat pendidikan begitu mahal, sehat begitu mahal, harga tidak stabil…itu hak kita untuk marah. dan itu bukan naif.” kata anda. Anda memang benar. Saya sangat setuju. Cuma, apakah hanya sebatas protes saja? Sebuah protes, dapat berlanjut menjadi sebuah pergerakan dengan tujuan memperjuangkan protes mereka supaya dapat diterima.

    Kalau memang marah, marahlah! Buat protesnya menjadi gerakan yang besar, sehingga bisa menuai hasil yang diharapkan. Kita ambil contoh gerakan reformasi tahun 1998, dimana para mahasiswa yang protes berhasil menghimpun kekuatan untuk menduduki gedung DPR/MPR hingga pada akhirnya menggulingkan rezim Soeharto. Mereka berhasil menghimpun rekan-rekannya yang bersuara sama sehingga menjadi kekuatan yang besar. Menjadi sebuah pergerakan. That’s a good protest. Protes yang berlanjut menjadi sebuah pergerakan, dan hasilnya pun ada.

    Sekarang? Anda bisa lihat sendiri setiap ada demonstrasi di Bundaran HI, atau Gedung Sate di Bandung. Hanya ada segelintir orang disana. Kadang belasan, kadang puluhan. Bahkan menembus angka 100 pun sangat jarang. Protes? Ya. Pergerakan? Anda bisa simpulkan sendiri.. Seperti yang anda sebutkan, “Bargaining Power”. Bagaimana caranya supaya sebuah protes, sebuah keluhan, mempunyai bargaining power yang kuat? Itulah yang harus diperjuangkan.

    Demonstrasi besar-besaran di London, Serikat Buruh di Prancis, Gerakan “People Power” di Mesir, Reformasi di Indonesia tahun 1998, semua berawal dari protes. Protes yang kemudian berlanjut menjadi sebuah pergerakan yang pada akhirnya menghasilkan ‘impact’ yang besar. Mereka tidak takut. Mereka diculik, mereka ditembak, ada yang meninggal, tapi pergerakan itu tetap berjalan.

    Anda bilang “indonesia belum siap seperti itu krn kesadaran itu emg ga dibuat disini, dibodohi.” Betul. Memang kenyataannya seperti itu. Contoh paling sederhana bisa kita temukan di ruang kelas di sekolah-sekolah. Ketika ada murid yang mencoba berargumen, berpendapat, seringkali disebut pembangkang, bodoh dan tidak sopan. Sejak di bangku sekolah pun, sudah dididik seperti itu.

    Sebelum protes, bukankah lebih baik kita bertanya dulu pada diri kita, “Apa sih yang sudah saya lakukan untuk negeri ini? Untuk lingkungan sekitar? Untuk orang-orang di sekeliling saya?”

    Kita ambil contoh, protes untuk pendidikan yang mahal. Ya, pendidikan itu mahal. Apakah kita pernah melakukan sesuatu untuk membantu orang-orang yang kurang beruntung sehingga tidak bisa menikmati bangku sekolah? Menyumbang buku atau menggalang dana? Atau membuat kelas terbuka, mungkin?

    Kalau kita sama sekali belum pernah melakukan apa-apa dan hanya bisa protes, itulah yang saya maksud dengan naif. Mental pengemis, meminta belas kasihan.

    Contoh lainnya, para guru honorer yang protes, menuntut agar mereka dijadikan PNS. Ini wajar, karena banyak dari mereka yang sudah mengabdi selama belasan bahkan puluhan tahun, tapi apa yang mereka dapat tidak senilai dengan pengorbanan mereka. Tapi, setidaknya mereka telah MELAKUKAN SESUATU untuk dunia pendidikan. Mereka tetap mengajar, meskipun honor yang mereka terima sangat jauh bila dibandingkan dengan guru PNS, padahal tugasnya sama beratnya.

    Sekarang, tinggal kita bertanya pada diri sendiri. “Sudahkah saya melakukan sesuatu?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s