Buried: Film Jenius, Tapi Bikin Keki

Ini posternya..

Pertama kali melihat poster film ini dan membaca sinopsisnya, saya langsung tertarik. Film yang bercerita tentang seseorang yang terperangkap di sebuah peti mati yang terkubur di bawah tanah, tampak menjanjikan sesuatu yang berbeda. Tadinya saya berniat menontonnya di bioskop. Tapi setelah dipertimbangkan lebih jauh, tampaknya film ini agak sayang kalau disaksikan di layar bioskop. Soalnya, tampaknya tidak ada special effect atau hasil teknologi canggih lainnya di film ini.

Kata ‘Buried’ yang menjadi judul filmnya sudah sangat menggambarkan isi ceritanya. Bintang utamanya adalah Ryan Reynolds, yang sudah punya reputasi sebagai aktor watak yang handal. Dengan adanya Reynolds, ide untuk menonton adegan orang yang terperangkap di dalam peti mati selama dua jam penuh menjadi tidak terlalu buruk. Dan akhirnya saya menontonnya dalam format DVD Bajakan KW1, yang gambar dan teksnya sudah persis sama dengan versi asli.

Di film produksi Lionsgate ini Ryan Reynolds berperan sebagai Paul Conroy, seorang supir truk yang bertugas di Irak. Konvoinya diserang, dan tiba-tiba dia terbangun di sebuah peti mati yang terkubur di dalam tanah. Di peti itu terdapat sebuah lighter, senter rusak, lampu fosfor, sebuah pisau, dan sebuah BlackBerry. Dengan semua itu Paul berusaha untuk menghubungi dunia luar agar dirinya bisa dibebaskan.

Dan benar saja, selama hampir dua jam masa tayang setting filmnya tidak berpindah tempat. Hanya di sebuah peti mati berukuran 2×1 meter. Untunglah saya tidak jadi menontonnya di bioskop.

Sepanjang film, yang kelihatan di layar ya seperti ini

Hebatnya, lokasi yang disitu-situ saja tidak membuat film ini jadi membosankan. Jalan cerita yang tidak bisa ditebak dan akting kelas satu Reynolds membuat film ini terasa sangat menegangkan. Entah kenapa mata saya seakan terhipnotis untuk terus menatap layar tanpa berpaling sedikit pun.

Harapan terbit saat tim penyelamat memberitahu Paul bahwa beberapa korban seperti dirinya telah berhasil diselamatkan. Salah satunya adalah seorang mahasiswa kedokteran bernama Mark White, yang diculik tiga minggu sebelumnya. Mengetahui White berhasil diselamatkan dan pulang ke rumah membuat Paul kembali bersemangat.

Sialnya, ending ceritanya sangat diluar perkiraan saya. Lima menit terakhir yang sangat menegangkan, saat Paul sudah hampir tewas lalu tim penyelamat memberitahunya bahwa mereka sudah menemukan dan sedang menggali petinya.

“Kami sudah menemukan lokasimu, Paul. Bertahanlah..”

“Terimakasih Tuhan. Cepatlah, aku sudah hampir terkubur!”

“Ya, kami sudah melihat petinya! Bertahanlah Paul, sedikit lagi!”

“Cepatlah! Sudah semakin sulit untuk bernafas!”

“Sedikit lagi, Paul! Sedikit lagi! Kami sedang menggalinya!”

Sangat menegangkan. Sesaat, terlintas pikiran bahwa Paul akhirnya dapat diselamatkan. Lalu, tiba-tiba…

“Astaga! Maaf, Paul.. Ini bukan peti yang berisi dirimu.. Ini Mark White. Kami mendapat petunjuk ke peti yang salah..”

“Oh Tuhan………………………………………………………………………”

“I’m so sorry, Paul… I’m so sorry……”

Dan layar pun langsung menjadi gelap.

“I’m so sorry, Paul…”

Sialan. Ternyata, tim penyelamat menggali peti yang salah. Tragis. Saat harapan sudah mencapai titik paling tinggi, sangat dekat dengan kenyataan, tiba-tiba semua berbalik 180 derajat. Pesan moral paling nyata dari film ini adalah: Life’s a bitch!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s