Endah Widyastuti & Rhesa Adityarama

The Don Torro Interview: Endah N Rhesa

Wawancara ini diambil dari arsip pekerjaan saya, dan sudah dimuat di Scool Magz edisi Januari 2011. Enjoy…

Endah Widyastuti & Rhesa Adityarama

Album Kedua Dengan Rasa Afrika

Setelah sukses dengan album pertama “Nowhere To Go” yang dirilis tahun 2005 dan dirilis ulang tahun 2009, duo akustik asal Jakarta ini kembali ngerilis album kedua mereka, Look What We’ve Found, bulan November kemarin.  Di album terbarunya ini Endah & Rhesa banyak bereksperimen dengan masukin unsur musik dari benua Afrika. Dan hasilnya, mantap!

Sambil nongkrong bareng di parkiran Sabuga, Endah & Rhesa cerita banyak tentang album kedua mereka, ramalan mereka di tahun 2011 dan ngebongkar identitas Shane Harden yang jadi tokoh utama di lagu-lagu mereka. Let’s check this out..

Happy Birthday, Rhesa! Mau ngasih kado apa nih buat gue?

Makasiiiih.. Loh kok kebalik sih? Lu yang ngasih kado dong ah.. Mana kadonya, sini?

Nanti dikadoin majalah aja yah.. Hehehe.. Kenapa di album baru banyak ngambil inspirasi dari musik Afrika? Apa gara-gara rambut Rhesa yang keriting-keriting?

Bukan lah.. Hahaha.. Jadi album pertama kemaren temanya emang urban, jadi musiknya new folk american ya. Di album kedua ini kita ngambil influence musiknya dari Afrika dan Karibia,  itu karena kita ingin menciptakan suasana hutan dan pantai. Semua lagu yang ada disitu  menceritakan tentang hutan dan pantai. Ada tokoh-tokoh binatang, nelayan juga.

Jadi ceritanya udah bosan main di kota nih, terus ngungsi ke hutan, gitu?

Hahahaha.. Sebenernya sih kita pengen nyari sesuatu yang baru. Lebih ke pembuktian diri. “Endah & Rhesa bisa main musik apa lagi sih selain kayak di album yang kemaren?” Dan ternyata bisa.. gitu..

Total waktu pengerjaan album ini berapa lama?

Rekamannya sendiri sih cepet, tiga bulan juga udah beres. Cuma ngegodok konsepnya yang lama, belum lagi ada revisi macem-macem. Terus cover, itu ngerjainnya dua bulan sendiri. Idenya yang susah. Yaa, total semuanya 8 bulan lah.

Kok gambar cover depannya mirip topeng di game Crash Bandicoot?

Ngga kenapa-kenapa sih, cuma waktu nyari sesuatu yang ngelambangin Afrika, topeng itu yang pertama kepikiran. Emang banyak inspirasi dari video game juga di album ini. Proses belajar itu kan immitating dan inovating. Jadi ngga papa lah ya kalau kita nyontek dari situ, terus diinovasi biar jadi sesuatu yang baru.

Album kalian kan konsepnya trilogi, bisa cerita sedikit tentang garis besar dari ketiga album ini?

Garis besar ceritanya itu sebenernya di tokoh Shane Harden itu.  Di album pertama itu kan nyeritain kisah-kisah dia yang ketemu sama banyak orang, terus dia rekam. Terus dia ciptakan tokoh Endah & Rhesa sebagai tuan dari hasil rekamannya itu.  Di album kedua ini, dia lagi nemu sebuah masalah yang terjadi di pulaunya dia. Lalu dia mencoba kembali ke masa lalu untuk menyelesaikan masalah itu. Nah, akhir ceritanya nih yang belum ketemu, masih akan diciptakan. Hahaha..

Bocoran doong, happy ending apa sad ending nih?

Kita pengennya happy ending lah. Soalnya kan kebanyakan cerita rakyat di Indonesia kayak Malin Kundang dll kan jarang tuh yang happy ending. Akhirnya sedih melulu.. Makanya kita pengen bikin yang happy endingnya lah..

“Shane Harden” itu melambangkan seseorang di kehidupan kalian kah?

Ngga juga sih, tokoh itu tercipta begitu aja. Kita emang pengen bikin tokoh yang karakternya smart, jadi tokoh pendobrak di tempatnya, punya jiwa artistik juga, dan punya otak kreatif yang ngga bisa diikutin oleh orang-orang di jamannya. Lagian Shane Harden kalo lu bolak-balik susunan hurufnya bakalan jadi Endah N Rhesa.. Hahahaha..

Kalian kan sibuk manggung sama promo nih. Terus ngebagi waktu bermusik sama waktu suami-istrinya  gimana?

Ya setiap hari doong! Soalnya kehidupan kami sehari-hari itu ya emang sebagian besarnya musik. Musik 70%, lain-lainnnya 30%. Gue lebih marah kalo Endah ngga latihan gitar daripada ngga bikin sarapan pagi. Hahaha..

Menurut kalian, pendengar musik di Indonesia udah bisa nerima tema-tema lagu yang “berat” apa belum?

Alhamdulillah sih udah. Mereka pinter-pinter sebenernya, cuma sayangnya musik yang keekspos ngga pinter-pinter. Kita sih selalu yakin bahwa seperti apapun musiknya pasti bakalan ada pasarnya, gitu. Kayak yang Efek Rumah Kaca bilang kalau pasar itu bisa diciptakan.

Pilih salah satu: Audrey – Gamaliel atau Sintha-Jojo?

Gamaliel – Audrey laah, yang udah jelas kualitasnya. Hahaha..

Tahun 2010 ini, ada rencana kalian yang ngga sesuai target?

Secara umum sih ngga ada ya. Paling cuma album aja yang mundur jadwal rilisnya. Awalnya target April, terus mundur sampai akhir tahun ini. Hahaha..

Mari sedikit meramal. Menurut kalian, di tahun 2011 nanti Endah & Rhesa bakal ngalamin kejadian apa aja?

Waduhh.. ini pertanyaan susah bener ya? Hmm… 2011, kita ngga bisa ngeramalin itu sih. Soalnya, tiap kita ngerilis album, si album itu sendiri yang ngasih kejutan buat kita, yang ngebawa kita kemana-mana.

Ya udah, resolusinya deh di tahun 2011…

Pengennya sih keluar album ketiga. Hehehe.. Terus Rhesa lagi ngerjain proyek pertamanya sebagai produser dengan sebuah band yang bernama Tor. Harapannya sih bisa keluar di 2011 juga albumnya Tor itu. Jadi kalo misalnya kita break main musik karena punya bayi, kita udah punya passive income dari situ. Hahahaha..

Setuju ngga dengan pendapat: “Jadi musisi idealis di Indonesia itu susah” ??

Susah untuk hidup sih ngga ya. Penghasilan kami cukup kok buat hidup. Cuma musisi idealis itu harus sadar untuk ngga punya ekspektasi yang berlebihan. Yang susah adalah menyiapkan strategi marketing dan strategi promosi yang tepat sasaran. Kita ngga perlu promosi yang booming-booming banget, yang penting jalan terus. Dan pada akhirnya kita bisa menciptakan komunitas atau market yang emang fokus disitu. Banyak kok contoh-contohnya, apalagi musisi Bandung. Kita juga banyak belajar dari musisi Bandung loh, kayak Mocca, Cozy Street Corner, sampai The S.I.G.I.T.

Kapan kalian mau bikin lagu berbahasa Indonesia?

Yang pasti itu buat proyek di luar album, soalnya konsep trilogi album pertama ini emang pake bahasa Inggris semua. Kayak sekarang kita lagi ada proyek buat bikin soundtrack filmnya Eugene Panji, judul lagunya “Cita-Citaku Setinggi Tanah”.

Last, apa sih bedanya Endah & Rhesa waktu masih pacaran dan yang udah nikah?

Endah: Bedanya? Sekarang saya sudah tidak perawan lagi.. Wahahahah… Yang paling kerasa sih di komunikasi ya. Kalo dulu misalnya dapet ide terus mau diomongin, mesti janjian ketemuan dulu, ngabis-ngabisin pulsa juga. Sekarang mau ngebahas apa aja dimana aja enak, soalnya ketemu terus tiap hari. Hehehe..

One thought on “The Don Torro Interview: Endah N Rhesa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s