Goodbye Lenin: Pergerakan Lewat Musik

Seri postingan ini diambil dari arsip tulisan yang saya buat untuk Grey Magazine, edisi November 2009. Edisi tersebut membahas tentang band-band yang sedang merajai scene musik lokal di Bandung ketika itu. Enjoy!

Text & Pic by Agung “Torro” Trianto

Orkes pelipur lara, Goodbye Lenin

Goodbye Lenin didirikan oleh tiga orang mahasiswa resah yang bertemu di sebuah klub menulis di kampus mereka. Mereka adalah Opick (vocal/gitar), Verri (drums) dan Arvi (programming). Nama Goodbye Lenin sendiri dipakai karena mereka ingin mengangkat nama tokoh yang memiliki idealisme kuat. Akhirnya dipilihlah Lenin, mantan presiden Rusia, yang mereka rasa paling tepat untuk mewakili idealisme bermusik mereka. “Kita emang kagum banget sama beliau, soalnya beliau lebih mementingkan hak buruh, hak kaum proletar,” ungkap Opick. Karena nama itu pula banyak yang menganggap mereka sebagai band makar atau band komunis. “Padahal Goodbye Lenin sama sekali tidak seperti itu. Kita hanya band yang lebih berpihak ke masyarakat kecil,” ungkap Opick.

Lirik lagu-lagu mereka meneriakkan kritikan-kritikan pedas terhadap sistem yang ada. Mengingatkan kita pada Efek Rumah Kaca, Homicide, bahkan Rage Against The Machine. “Masih banyak tema lain yang bisa diangkat sebagai lirik, daripada hanya membuat lirik cinta,” tegas mereka. Tampaknya mereka sedang berbicara tentang band-band mainstream saat ini yang terperangkap dalam lagu-lagu bertemakan cinta.

Goodbye Lenin memang tidak membuat lagu cinta. Tapi itu bukan berarti mereka anti terhadap tema “cinta”. Justru karena kecintaan mereka yang begitu besar pada negeri inilah yang membuat mereka bisa menghasilkan lirik-lirik yang pedas dan menyengat. Simak saja lagu “Ruang Plastik” yang menggambarkan masyarakat yang terperangkap dalam budaya hidup konsumtif. Agaknya akan lebih tepat menyebut Goodbye Lenin sebagai pergerakan melalui media musik ketimbang menyebut mereka sebagai sebuah band.

“Negara kita katanya negara yang kaya. Tapi kenapa nasib negara kita sampai sekarang masih sengsara? Ada sesuatu yang salah dalam sistem di Negara ini,” ujar mereka. Dengan kritik itulah Goodbye Lenin berusaha mengingatkan orang-orang bahwa masih ada yang harus diperbaiki. “Kalau kita ada di posisi mereka, belum tentu juga kita lebih bagus dari mereka. Makanya mumpung kita masih sadar, kita ingatkan. Seperti anak yang mengingatkan ayahnya,” Verri menambahkan.

Isu yang paling sering mereka angkat adalah tentang kesejahteraan petani dan buruh. Seruan mereka bukan hanya sekedar wacana. Mereka pernah merasakan sendiri betapa pahitnya kehidupan buruh. Verri sang drummer pernah berdagang ikan dan bekerja di pelabuhan di daerah asalnya, Belitung. Sang vokalis, Opick pernah menjadi pedagang sayur di pasar Banjaran. Arvi juga sempat bekerja sebagai waiter di beberapa café. Kehidupan buruh yang keras pula yang membuat mereka menjadi lebih peka terhadap masalah kesamaan hak dan kesejahteraan. “Terutama sistem feodalisme di daerah-daerah yang harus segera dihilangkan. Masih banyak tuan tanah yang menindas buruh tani yang tidak memiliki lahan. Banyak buruh tani yang cuma dibayar 8.000 rupiah setelah bekerja keras seharian penuh,” ungkap mereka. Mereka juga mengungkapkan kekecewaan mereka terhadap nasib para petani yang masih bergantung kepada para tengkulak.

Mereka juga mengungkapkan lima hal yang harus dibenahi dari Indonesia agar menjadi lebih baik. “Pertama adalah  menghentikan ketergantungan terhadap imperialisme Amerika. Yang kedua adalah menghancurkan sisa-sisa budaya feodalisme di desa-desa, karena banyak tuan tanah yang tidak berpihak kepada petani. Ketiga, membenahi para kapital birokrat yang menjadi operator imperialisme Amerika di negeri ini. Keempat adalah menghapus undang-undang BHP yang membuat pendidikan semakin mahal. Yang terakhir, menghapuskan undang-undang No. 13 tentang perburuhan!!” tegas mereka.

Pengalaman manggung mereka yang paling seru adalah ketika mereka manggung di kampus UPI. “Waktu itu tempat acaranya penuh banget. Terus penontonnya teriak-teriak ‘Feodalisme, hancurkan!!’ gitu. Asik banget waktu itu. Kita malah sempet mikir kalau sekarang masih zaman orde baru, mungkin kita udah pada ditangkap,” tutur mereka penuh semangat. “Cube gitar malah sampai jebol segala. Jadi begitu masuk lagu kedua dan seterusnya, kita main sama sekali ngga pake gitar,” tambah Verri. Bahkan waktu Charlie ST12 menangis di layar televisi ketika membawakan lagu “Saat Terakhir”, Opick sudah melakukannya jauh lebih dulu saat Goodbye Lenin perform di Selasar Sunaryo.

Dalam menyebarkan lagu-lagunya, mereka lebih senang memakai jaringan pertemanan. “Menurut kami, pergerakan yang disampaikan lewat mulut ke mulut hasilnya akan lebih efektif,” kata mereka. Mereka pernah memproduksi limited package yang berupa CD, kaos, pin dan booklet yang hanya berjumlah 12 pieces. Penyebarannya pun sangat selektif. “Kita lebih mengutamakan orang-orang baru yang ingin tahu lebih jauh tentang Goodbye Lenin,” ujar mereka. Dengan sistem seperti itu mereka berhasil menyebarkan lagu-lagu mereka hingga ke kota-kota seperti Yogyakarta dan Lombok. Selain itu mereka juga sudah membuat beberapa video yang dijadikan visual art dalam setiap penampilan panggung mereka. Video-video ini sengaja tidak mereka sebarkan karena khawatir ada pihak-pihak tertentu yang terprovokasi.

Sampai kapan Goodbye Lenin akan terus berteriak? “Selama masih ada ketertindasan, kita masih akan terus berkarya,” jawab mereka. Opick juga menuturkan bahwa mereka berharap orang-orang yang mendengar lagu mereka akan lebih sadar terhadap keadaan hidupnya dan ada diskusi tentang pesan-pesan yang ada didalamnya. “Kita ngga pengen orang yang nonton kita ngga dapet apa-apa,” Verri menambahkan.

Contact Person:

Rangga – 081322869006

http://www.myspace.com/gdblenin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s