Elixer: Tujuh Tahun Mengejar Pelangi

Seri postingan ini diambil dari arsip tulisan yang saya buat untuk Grey Magazine, edisi November 2009. Edisi tersebut membahas tentang band-band yang sedang merajai scene musik lokal di Bandung ketika itu. Enjoy!

Text & Pic by Agung “Torro” Trianto

Duta britpop dari Bandung (arah jarum jam): Fajar, Gandi, Erfan & Dimas

““Kami ngga terpengaruh dengan banyaknya orang yang bilang ‘britpop is dead”. Band-band britpop diluar sana memang banyak yang pecah, contoh paling nyatanya adalah Oasis. Tapi kami percaya kalau britpop tidak akan mati,” ujar mereka penuh keyakinan.”

Elixer dibentuk pada tahun 2002, diawali oleh Ahmad (gitar), Fajar (bass), dan Fahmi (vokal,gitar), tiga orang pelajar SMPN 4 Bandung yang membuat band dadakan untuk manggung di acara perpisahan sekolah mereka. “Waktu itu Ahmad bilang ‘Ayo dong kita ngeband, pengen manggung di perpisahan biar eksis’ ke gue dan Fahmi,” tutur Fajar mengenang. Karena posisi drummer masih kosong Ahmad mengajak teman masa kecilnya, Gandi, untuk mengisi posisi tersebut. Ternyata, proyek dadakan ini terus berlanjut setelah manggung pertama tersebut. Mereka terus bermain dari panggung ke panggung dengan meng-cover lagu-lagu band Britpop seperti Morissey, Shed 7, Supergrass, Ash dan Weezer sampai tahun 2005 Ahmad mengundurkan diri dari band. Posisi gitar kemudian diisi oleh Jerry sampai digantikan oleh Erfan pada tahun 2008.

Sejak bergabungnya Erfan, Elixer mulai mulai menemukan arah bermusik mereka dan mulai menciptakan lagu sendiri. Salahsatunya adalah demo track pertama mereka, “Platonic Love” yang sempat memuncaki chart indie di tiga stasiun radio di Bandung pada pertengahan 2008 silam. Pada April 2009 mereka merilis mini album pertama mereka yang bertitel “Chasing Rainbows”. Di album ini mereka mengusung genre yang mereka namakan fusion pop rock, dengan sound yang lebih mengarah ke era british pop di tahun 90-an. Single pertama dari album ini, “Winter Wonderland” juga memperoleh respon yang cukup baik.

Euphoria mereka setelah berhasil merilis album tidak bertahan lama. Ternyata bulan Agustus 2009 sang frontman, Fahmi, harus meninggalkan band untuk melanjutkan studi di luar negeri. Keluarnya Fahmi adalah kehilangan besar untuk Elixer mengingat kontribusinya yang besar dalam musikalitas dan lirik. Tapi mereka memutuskan untuk tetap melanjutkan Elixer. “Gue ngga mau kalau Elixer sampai bubar. Kalau kami membubarkan band ini, sama saja kami membubarkan persaudaraan yang sudah terjalin sejak dulu,” tegas Fajar yang sekarang menggantikan posisi Fahmi sebagai vokalis dan gitaris Elixer. Sepeninggal Fahmi mereka menarik Dimas untuk menjadi additional bass player sehingga line-up Elixer saat ini adalah Fajar (gitar / vokal), Erfan (gitar), Dimas (Bass) dan Gandi (drum). “Gue terpaksa harus belajar main gitar dari awal lagi,” ucap Fajar.

Perubahan line-up tentu mempengaruhi musikalitas Elixer. Sekarang musik mereka lebih mengarah ke indie rock. Definisi indie rock sendiri menurut Erfan adalah “Musik yang tidak terlalu mainstream, tapi masih bisa diterima label dan masyarakat banyak,” ujarnya. Namun unsur british pop yang menjadi roots mereka juga tetap mereka pertahankan. Materi-materi baru yang mereka siapkan juga menurut mereka lebih ngerock dan lebih powerful. Lebih mengeksplorasi musikalitas masing-masing personil, dan memasukkan influence baru seperti Mew, The All American Reject dan Queens Of The Stone Age. “Sekarang kami ingin meningkatkan porsi backing vocal, seperti The Beatles dengan duet John Lennon dan Paul McCartney yang legendaris,” kata Fajar.

“Kami ngga terpengaruh dengan banyaknya orang yang bilang ‘britpop is dead”. Band-band britpop diluar sana memang banyak yang pecah, contoh paling nyatanya adalah Oasis. Tapi kami percaya kalau britpop tidak akan mati,” ujar mereka penuh keyakinan.

Saat ini mereka sedang sibuk mempersiapkan produksi video klip untuk single “Winter Wonderland”. Rencananya mereka akan mulai syuting pertengahan Oktober ini. “Tim produksi dan konsep video klipnya sudah fix, kita hanya tinggal syuting dan editing saja,” ungkap Arya, sang manager yang ikut mendampingi pemotretan dan wawancara.

Band yang awalnya hanya iseng-iseng ini ternyata telah berkembang menjadi band serius. Apa kondisi ini membuat mereka punya target yang lebih jauh seperti berusaha masuk major label? “Kami belum tahu juga kalau soal itu. Tapi sejauh ini misi awal dari band ini sudah tercapai yaitu bikin band, menghibur orang, dan bikin album,” ucap Fajar mewakili rekan-rekannya yang lain. Tercapainya sebuah misi tentu akan memunculkan misi-misi lainnya. “Harapan paling tingginya ya bisa go international lah. Gak usah sampai manggung di luar negeri, paling tidak lagu-lagunya nyampe ke luar. Seperti Nidji yang salah satu lagunya dijadikan soundtrack Heroes,” ujar mereka. Sebuah harapan yang cukup tinggi memang. Yang jelas, kegigihan mereka untuk bertahan dan akhirnya merilis album setelah tujuh tahun berdiri belum tentu bisa dilakukan oleh band-band lain. “Gue juga ngga ngerti kenapa band ini bisa terus bertahan,” kata Fajar setengah bercanda.  Pesan terakhir dari mereka: “Keep fight, everything must go!!”.

Diskografi:
Chasing Rainbows E.P. (2009)

Contact Person:

Arya – 085624884060

Hafiq – (022) 92158711

http://www.purevolume.com/elixerindie

http://www.myspace.com/elixerindierock

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s