Duka Saat Menonton Final Piala AFF

Tadi malam, saya menghadiri acara nonton bareng final piala AFF di sebuah barber shop yang juga merangkap sebagai cafe dan game online di daerah Lengkong, Bandung.

Sebenarnya saya hadir disana bukan untuk menonton sepak bola, tapi untuk keperluan peliputan. Berhubung ternyata jadwal kedatangan saya kesana bertepatan dengan acara nonton bareng, ya sudahlah. Akhirnya saya pun ikut menonton. Lagipula pertandingan leg kedua antara Indonesia dan Malaysia, tampaknya sayang kalau dilewatkan. Meskipun sebenarnya saya sudah agak pesimis Indonesia akan bisa menjadi juara, karena di pertandingan pertama sudah kalah 3-0.

Saya mendapat firasat buruk malam itu. Dan terbukti, saat pertandingan memasuki pertengahan babak pertama, Firman Utina gagal mengeksekusi tendangan pinalti. Dan “That’s it. Indonesia pasti gagal,” pikir saya.

Babak pertama pun berakhir dengan skor kacamata, alias 0-0.

Di waktu jeda pertandingan, ternyata terjadilah malapetaka yang sebenarnya untuk saya. Sambil menunggu babak kedua dimulai, saya memasangkan earphone ke handphone yang saya bawa, dan menyalakan pemutar musik. Lalu pada saat saya bangkit dari kursi untuk mengambil minum, ternyata kabel earphone-nya tersangkut di sela kursi, dan tertarik sampai putus! Ya, PUTUS!

Padahal, earphone itu baru saya beli tiga hari sebelumnya, dengan harga yang cukup mahal untuk seorang cheap bastard seperti saya. 45 ribu rupiah. Jumlah itu kira-kira sebesar 5% dari gaji bulanan saya. Kalau mau tahu gaji saya, silahkan hitung sendiri. Yang jelas, saya harus mengorbankan beberapa pos pengeluaran agar bisa membeli earphone itu. Salah satunya adalah tidak makan siang selama 4 hari berturut-turut.

Dan, to be honest, saya hampir menangis. Saya tidak rela earphone baru yang saya beli dengan susah payah itu hanya berumur tiga hari saja.

Bahkan saat pertandingan babak kedua sudah dimulai kembali, saya tidak memperhatikannya. Antusiasme saya terhadap pertandingan itu sudah hilang. Saya hanya duduk terdiam di kursi, sambil memandangi earphone baru saya yang berumur sangat singkat itu.

Saya bahkan tidak menyaksikan ketika tim Malaysia berhasil menjebol gawang Indonesia. Saya juga tidak menyaksikan ketika M. Nasuha berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Dan baru sadar ketika tiba-tiba Indonesia berhasil berbalik unggul lewat gol M. Ridwan. Selebihnya, mata saya hanya tertuju kepada si earphone malang.

Tanpa earphone itu, saya kesulitan mendengarkan rekaman-rekaman wawancara.

Tanpa earphone itu, saya tidak bisa ber-autis ria saat duduk di dalam angkot.

Tanpa earphone itu, saya tidak bisa mendengarkan musik-musik kesukaan saya.

Tanpa mendengarkan musik, mood saya akan hancur berantakan, uring-uringan, dan tidak produktif.

Saya tidak bermasalah dengan kegagalan Indonesia menjadi juara piala AFF. Tapi, saya tidak rela earphone baru saya harus putus saat menonton pertandingan itu. Selamat tinggal, earphone-ku yang malang..

😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s