Bondan Prakoso and Fade 2 Black: Between Hip-Hop and Cross Over

Ini adalah arsip wawancara saya bersama proyek kolaborasi hip-hop ini yang juga dimuat di Scool Magazine edisi 5.  Bulan Mei 2010, saya mewawancarai mereka di 9 Square Cafe, Jl. Sulanjana, Bandung ditengah-tengah rangkaian promo mereka. Waktu itu, album “For All” baru dirilis, dan single “Ya Sudahlah” belom booming dimana-mana seperti sekarang. Silahkan dilihat.

Bondan Prakoso & Fade 2 Black, by Dory Riyanto

Rasanya sulit mencari kata-kata yang pas untuk menggambarkan konspirasi musikal yang satu ini. Mantan penyanyi cilik yang juga salah satu pemain bass papan atas Indonesia, sempat membentuk band funk yang cukup hype pada jamannya, lalu tiba-tiba berbelok dan bergabung bersama kelompok hip-hop jalanan dari pinggiran ibukota. Bondan Prakoso & Fade 2 Black adalah gabungan dari kultur hip-hop jalanan, musik gado-gado dan keinginan bereksplorasi yang meledak-ledak.

Proyek konspirasi musik tingkat tinggi ini sudah dimulai sejak tahun 2004, dan menghasilkan tiga album yaitu “Respect” (2005), “Unity” (2007) dan yang paling anyar “For All” (2010). Musik mereka mulai banyak dilirik setelah kesuksesan single “Kroncong Protol” dari album kedua. Di album terbarunya mereka kembali mengeksplorasi bermacam aliran musik seperti funk, metal, melodic punk, ska, dan blues.

“Kita pengen ngangkat lagi musik-musik yang pernah jaya pada jamannya,” ungkap Bondan. Di album ini pula Bondan bernyanyi, menjadi produser, sampai bermain instrumen sekaligus! Si lumba-lumba rupanya bener-bener mengeksplorasi musikalitasnya sampai batas maksimal sementara Lezano, Santoz dan Titz bertugas mengisi departemen lirik. Dan hasilnya, sebuah album yang atraktif dengan 11 track dengan corak yang berbeda-beda.  Seperti kepingan-kepingan puzzle yang jika disusun mengarah kepada satu kata: Semangat!

Lagu-lagu di album terbaru mereka banyak mengusung tema-tema optimisme dalam menjalani hidup. Sangat kontras bila dibandingkan dengan lagu-lagu dari para band “Invasi Melayu” yang kental dengan cinta segitiga, selingkuh dan patah hati yang kini mendominasi pasar. Kini, setelah album ketiga mereka dirilis, what’s next for Bondan & Fade 2 Black?

Okay. That skinny guy on the left is me, alright..

Sebelum ketemu sama Bondan, Fade 2 Black (F2B) sendiri udah kebentuk sejak kapan sih?

Titz: F2B sendiri udah kebentuk sejak 1999. Kita sama-sama temen dari kecil. Gue, Ari dan Eza. Sebenernya F2B itu ada 6 orang, ngga cuma bertiga. Satu Dj, lima rapper. Kita sempet bikin album indie yang dijual secara hand to hand, cuma lokal doang sampe tahun 2004 ketemu Bondan. Nah kenapa sekarang cuma bertiga,  karena waktu Bondan ngajak kolaborasi tahun 2004, yang saat itu available cuma kita bertiga. Dua personil lainnya sibuk. Satu emang lagi training dan satu lagi sakit.

Secara otomatis dua anggota yang ngga bisa ikut itu di-cut?

Titz: Ngga. Di album kedua kita masih tetap komplit. Terus di tahun 2006 kemarin DJ kita meninggal. Di album kedua kita sempet bikin lagu tribute buat almarhum, dan dua orang yang ngga ikut di project ini ikut. F2B sendiri aslinya masih tetap 5 orang. Dan bondan dengan band dia, dan F2B tetap dengan formasi 5 orang ini.

F2B itu mulai naik namanya setelah proyekan dengan Bondan kan?

Titz: Untuk nasional, iya.

Bondan: Tapi kalo di Bogor mereka lebih terkenal  dari gue, man! Semua supir angkot, pengamen sampai tukang VCD bajakan itu tau tentang F2B. Hahaha..

Jadi itu salah satu alasan lu kerjasama sama mereka, biar terkenal di Bogor?

Titz: Terkenal jadi tukang angkot! Hahahaha…

Bondan: Ngga lah, hahaha.. Kebetulan aja sih. Gue malah belum pernah denger sama sekali F2B. Gue denger langsung dari dia (Titz) di 2004, dia yang cerita sama gue kalo F2B udah pernah bikin album indie, hand to hand selling dan lagi bangun hiphop community disana, dari situ gue baru tau F2B dan tertarik.

Waktu itu udah ngikutin hiphop?

Bondan: Gue sama sekali ngga ngikutin hiphop. Gue cuma tau hiphop tuh begini, gayanya begini-begitu, bling-bling segala macem. Begitu mereka kasih tau gue kalo hiphop sebenernya bukan begitu. Hiphop itu emang dari bawah, akarnya dari orang-orang jalanan. Yang lu liat di TV itu fake, palsu semua. Dari situ gue mikir kalau kita harus ngangkat hiphop yang sebenarnya. Dari situ gue mutusin buat bikin project bareng.

Dengan project ini, apa sih dampaknya buat lu?

Bondan: Banyak banget yang gue pelajarin dari F2B. Selain hiphop itu sendiri, salahsatunya adalah  lirik. Lirik yang umumnya itu-itu aja, di rap ternyata luas. Kata anak-anak “Rap itu adalah media terbaik dalam menyampaikan pesan.” Kalo di lirik lagu lu nyanyi satu bait cuma beberapa kalimat, di rap satu bait bisa ratusan kata. Dari situ gue belajar banyak. Perbendaharaan kata, knowledge tentang hiphop yang sebenernya seperti apa. Impactnya buat gue, gue jadi lebih dewasa ngeliat musik yang bukan musik gue. Kalo dulu gue asik sendiri dengan dunia gue, music funk, rock, ternyata musik itu luas. Dan hiphop sendiri juga banyak cabangnya. Dari situ gue belajar untuk respect terhadap semua perbedaan.

Kalo dari F2B sendiri ngeliat scene hiphop lokal seperti apa?

Titz: Itu dia yang gue bilang! Industri ini yang lu liat di tv itu fake! Jadi media Bondan kebetulan satu visi dan ngedengerin apapun misi dari F2B sendiri. Gue pengen ngangkat kalo hiphop ini sebenernya perjuangan, bukan tentang ngebuang-buang uang, glory dan semua yang berbau-bau high class. Disinilah hiphop berperan, karena awalnya hiphop itu dari situ. Karena penindasan black people yang di Amerika itu. Gue pengen nerapin konsep itu disini, itu perjuangan gue. Dan gue liat hiphop lokal itu cenderungnya maen di club. Dan club identiknya dengan high class, glamourous dan segala macem.

Balik lagi ke jaman Public Enemy, Krs-One, Nas?

Titz: Betul! Dan kebetulan kita emang orang-orang 90’s, dan besarnya di golden age-nya hiphop. Jadi bukan kayak hiphop-hiphop sekarang.

Lezano: Bandung juga banyak band hiphop yang bagus kayak Homicide atau Molotov.

Dengan Homicide sendiri, kenal?

Lezano: Kenal sih ngga, cuma gue punya albumnya. Gue suka banget tuh Homicide yang jaman-jaman awal.

Kalo Homicide mengeksploitasi lirik yang sarkastik dan politis, apa F2B juga seperti itu?

Santoz: Secara musik iya, tapi kalo lirik gue lebih ke kehidupan pribadi. Gue ngga mau ngerambah politik karena udah bosen sama politik.

Titz: Gue bilang Homicide emang realistis, emang orator. Jadi wajar kalo dia ngomongin politik.

Santoz: Iya, dia juga realistis. Jadi kalo dia ngomongin politik, itu wajar. Karena dia adalah pendemo sejati. Kalo gue ngomongin keseharian gue aja, apa adanya. Keep it real! Kalo dari musik, gue rasa influence gue dan dia sama.

Like Public Enemy said, “Fight the power!!”, kalian ngga ada di jalur itu?

Titz: Ngga ada di jalur itu. Ngga ada di jalur politik.

Kenapa? Apa karena politiknya udah terlalu busuk?

Titz: Iya, betul! Udah terlalu busuk! Mau diomongin, mau dikasih tahu juga percuma. Mending gue ngomongin sesuatu yang lain lah.

Santoz:  Biar masyarakat Indonesia belajar politik sendiri lah, ngga usah diajarin. Mereka punya otak, punya knowledge sendiri. Mereka bisa liat yang berpolitik ini fake apa ngga, mereka bisa nilai.

Lezano: Dan suara politik gue udah diwakilin sama Ucok (Homicide), jadi gue ngga usah ngucapin lagi. Hahaha..

Ngomongin demand nih, sekarang kan demandnya lagi banyak musik melayu, right? Kenapa ngga sekalian masukin musik melayu di album? Haha..

Bondan: Sebenarnya bukan karena gue ngga mau ngikutin demand yang ada yah. Bukan karena orang lain bikin musik yang kayak gini, terus gue sok-sokan harus selalu bikin yang berbeda dari mereka. Bukan itu. Cuma yang penting buat gue adalah kenyamanan dan kejujuran dalam berkarya. Gimana caranya gue teteup bisa berkarya dengan nyaman dan jujur dengan karya-karya gue.

Kayaknya dulu waktu sekolah pada bukan termasuk anak-anak rajin nih…

Bondan: Sekolah itu buat gue ngga penting. Kenapa? Karena pendidikan di sekolah itu buat gue cuma sekedar formalitas. Tapi bukannya gue bilang sekolah itu ngga perlu ya. Pelajaran yang sebenarnya tuh ada di kehidupan itu sendiri. Experience is the best teacher, man! Gimana caranya lu belajar dari pengalaman lu, ngembangin skill dan kemampuan lu serta ngebangun link-link yang bakal menunjang kerjaan lu nantinya. Menurut gue sih lebih bermanfaat ikut kursus kayak kursus programming, kursus jahit, kursus masak yang gitu-gitu. Lebih kepake buat hidup

Ceritain dong satu aja unforgettable moment kalian waktu SMA…

Santoz: SMA itu masa-masa paling berkesan buat gue, tempat gue nyobain semuanya. Mulai dari pacaran, tawuran, bolos segala macem, itu semuanya gue coba di SMA.

Titz: Sebenernya gue nga menginginkan ada di istitusi bernama sekolah. Itu keinginannya ortu gue. Nah waktu SMA, gue dimasukin ke SMA 6 Bogor yang guru-gurunya kebanyakan tetangga gue semua. Waktu hari pertama masuk, gue bolos dari sekolah, loncat pager. Begitu sampe di rumah, ortu gue ternyata tau kalo gue bolos. Ternyata wali kelas gue yang laporan, dan ternyata rumahnya wali kelas gue itu pas banget di belakang rumah gue! Hahahaha…

Lezano: Gue pernah dateng ke sekolah, tapi langsung pulang lagi. Soalnya waktu gue nyampe sekolah, sekolah gue lagi tawuran sama sekolah lain. Gue masih kelas 1 waktu itu, jadi daripada gue kenapa-kenapa mending gue kabur aja, pulang. Hahaha..

Bondan: Kalo gue sih yang positif aja yah? Haha.. Jadi waktu gue SMA, sekolah gue itu terkenal karena peredaran narkoba yang gila-gilaan. Waktu itu gue ngeband, ikut festival namanya Tawuran Musik Levi’s dan band gue berhasil jadi juara. Waktu penyerahan hadiah, gue bangga banget bisa ngangkat nama sekolahan gue dengan cara yang positif.

One thought on “Bondan Prakoso and Fade 2 Black: Between Hip-Hop and Cross Over

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s